Wednesday, 12 August 2015

Pantaskah Hukuman Mati Bagi Pengedar Narkoba Ataukah Sekedar Membunuh HAM ?

Sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita tentang hukuman mati yang sempat digembor-gemborkan setahun ini. Bagaimana mungkin tidak heboh pemberlakuan dan eksekusi hukuman mati bagi pengedar Narkoba yang tertangkap di Tanah air ini mengundang perhatian negara-negara tetangga yang terlibat bahkan yang tidak terlibat hingga sekjen PBB pun ikut berkicau mengenai hal ini. 
Pro dan kontra muncul dalam penerapan hukuman mati ini walaupun pada akhirnya Presiden Jokowi tetap melaksanakan, Bagi mereka yang tidak mendukung hal ini dikaitkan dengan masalah HAM sedangkan bagi mereka yang mendukung mempunyai alasan agar timbul efek positif berupa ketakutan bagi pengedar narkoba untuk melakukan operasinya di Indonesia khususnya WNA yang berniat menggelar operasi di Indonesia.
Untuk menentukan sikap apakah kita harus mendukung hukuman mati tersebut atau tidak lebih bijaknya kita menganalisis sejauh mana dampak pengedaran narkoba sehingga secara tidak langsung meningkatkan penggunaan narkoba di Indonesia. 
Memang tidak bisa dipungkiri selama ini Indonesia menjadi sasaran empuk untuk pengedaran narkoba. Troels Vester yang merupakan kordinator UNODC di PBB untuk indonesia menyampaikan bahwa Diperkirakan ada sekitar 3,7 juta sampai 4,7 juta orang pengguna narkoba di Indonesia. Ini data tahun 2011. Sekitar 1,2 juta orang adalah pengguna crystalline methamphetamine dan sekitar 950.000 pengguna ecstasy. Sebagai perbandingan, ada 2,8 juta pengguna cannabis dan sekitar 110.000 pecandu heroin. Sedangkan menurut perkiraan otoritas Indonesia Badan Narkotika Nasional (BNN), saat ini ada sekitar 5,6 juta pengguna narkoba. Dulu, bahan yang paling banyak dikonsumsi adalah cannabis. Pada paruh kedua 1990-an ada peningkatan tajam pengguna heroin, terutama lewat jarum suntik. Ini mengakibatkan peningkatan pesat penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Tapi menjelang akhir 1990-an, yang paling banyak digunakan adalah Amphetamine Type Stimulants (ATS). Sedangkan jika dibandingkan Berdasarkan Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba tahun anggaran 2014, jumlah penyalahguna narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir (current users) pada kelompok usia 10-59 tahun di tahun 2014 di Indonesia. Jadi, ada sekitar 1 dari 44 sampai 48 orang berusia 10-59 tahun masih atau pernah pakai narkoba pada tahun 2014. Angka tersebut terus meningkat dengan merujuk hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan Puslitkes UI dan diperkirakan pengguna narkoba jumlah pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa pada tahun 2015.
Jika diperhatikan dengan seksama walaupun sumber data berbeda pada rentan waktu antara 2011 terjadi peningkatan penggunaan narkoba. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi kemajuan bangsa Indonesia kedepan. 
Sudah sangat jelas bahwa narkoba sangat merusak penerus negeri ini dan banyak memakan korban Jiwa. Entah dengan alasan apapun bagi saya pengedar narkoba adalah pembunuh massal yang telah membunuh banyak masa depan anak bangsa bahkan merenggut nyawa mereka. Dengan cara apapun pengedar berupaya agar sang korban terwujud hingga kecanduan. Hal ini tentunya jika kita ingin mengatakan bahwa mereka tidap pantas dihukum mati karena HAM.. lalu bagaimana nasib para korban narkoba yang terlanjur menjadi pecandu hingga nyawa terenggut , apakah mereka tidak memiliki hak yang sama, mereka juga pantas diperjuangkan untuk hidup , Jadi sangat adil bagi pengedar dan bandar mendapat hukuman mati menurut saya seperti yang tertuang dalam Hukuman mati produsen dan pengedar narkoba diatur dalam Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Dalam undang-undang ini, ada enam pasal yang mengatur hukuman pidana mati yakni pasal 113, 114. 116, 118, 119, dan 121.


No comments:

Post a Comment